Satu Aplikasi atau Satu Platform?
Pilihan arsitektur yang dibuat di bulan-bulan awal akan menentukan segalanya. Kami memilih yang lebih susah, karena yang lebih mudah tidak akan cukup.
Oktober 2025. Sudah dua bulan sejak kode pertama. Beberapa orang sudah mulai bergabung, datang menawarkan diri setelah mendengar cerita tentang apa yang sedang dibangun. Tim kecil dengan latar belakang berbeda-beda: ada yang dari dunia fintech, ada yang baru selesai kuliah, ada yang sudah belasan tahun di industri teknologi. Semua punya satu kesamaan, merasa ada yang kurang dari semua aplikasi masjid yang sudah ada.
Di bulan ini kami membuang dua versi prototipe. Yang pertama pakai Laravel karena cepat. Yang kedua pakai Node.js karena ada yang menyarankan. Keduanya terasa seperti memakai baju orang lain. Tidak ada yang salah dengan teknologinya. Masalahnya adalah apa yang ingin dibangun terlalu kompleks untuk pendekatan "satu aplikasi".
Masjid butuh akuntabilitas keuangan yang berbeda dari kebutuhan jemaah individual. Jemaah butuh sistem kepercayaan yang berbeda dari kebutuhan vendor di marketplace. Semuanya saling terhubung tapi tidak boleh saling mencemari.
Keputusan yang kemudian dibuat: PHP 8.3 native, tanpa framework. 26 domain yang terisolasi dengan aturan ketat. Domain nomor kecil tidak boleh bergantung pada domain nomor besar. Setiap domain punya satu pemilik data. Sebagian anggota tim mengangguk setuju. Sebagian mengangkat alis. Ini keputusan yang membuat segalanya lebih lambat di awal, tapi jauh lebih sehat untuk jangka panjang.
Untuk fitur yang butuh kecepatan tinggi, seperti chat realtime, analitik, dan pemrosesan audio khutbah, kami tambahkan FastAPI sebagai layanan paralel. Dua inti. Satu tujuan.
Arsitektur itu bukan tentang teknologi. Ini tentang seberapa jauh Anda bisa melihat ke depan saat sebagian besar hal masih belum jelas.
Ada masukan atau pertanyaan?
Hubungi kami